Sejarah

Yayasan Dakwah Al Anshor Al Islami – selanjutnya disebut YDAI – merupakan sebuah lembaga dakwah yang menyebarkan ajaran Islam dengan pemahaman Rasulullah sholallahu alaihi wasalam beserta para sahabatnya radhiallahuanhu. Yayasan ini beralamat di Dusun Kromasan RT. 020 RW. 006 Desa Bendosari, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Indonesia, Kode Pos: 64172. Telp: 085708331732

Bermula dari Masjid al anshor di dusun kromasan desa bendosari kecamatan kras kabupaten Kediri provinsi jawa timur. Masjid al anshor merupakan masjid tertua dari tiga masjid yang berada di dusun kromasan. Masjid al ansor sendiri telah berdiri sejak zaman penjajahan belanda, tak seorangpun dari masyarakat sekitar masjid yang masih hidup mengetahui kapan persisnya masjid al anshor pertama kali dibangun. Menurut cerita yang ada masjid al anshor sudah ada sejak penjajah belanda masih menapakan kaki di bumi nusantara. Masjid al anshor terletak di ujung timur laut dari dusun kromasan dan berbatasan dengan desa nambakan. Meskipun terletak di ujung desa tetapi masjid al anshor memiliki jamaah yang cukup banyak. Masjid al anshor memiliki empat musholla yang tersebar di dusun kromasan yakni musholla al ikhlas di selatan, al kautsar di timur, abu bakar di barat, dan al falah di tengah.

Kajian Masjid Al Anshor

Masjid al anshor memiliki beberapa pengajian rutin diantaranya: pengajian malam sabtu ahad kedua membahas kitab nikah yang disampaikan oleh ustad abdul adhim, pengajian malam sabtu ahad ke empat membahas kitab riyadussholihin yang disampaikan ustad hasyim rifai, pengajian malam sabtu ahad kelima berpindah pindah diantara kelima mushola dan pengajian malam ahad setiap ahad pertama dan ketiga.

Pengajian malam ahad pertama dan ketiga masjid al anshor merupakan pengajian rutin yang dilakukan setiap bulan selain bulan ramadhan. Pengajian rutin malam ahad pertama dan ketiga masjid al anshor dimulai sejak tahun awal 1960. Pengajian rutin masjid al anshor kediri pada mulanya, diselenggarakan pada malam sabtu dimana lokasi pengajian sendiri berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain di wilayah dusun kromasan. Penceramah dari pengajian rutin diundang dari tulungagung yakni ustadz samelan. Setelah berakhirnya peristiwa g30spki yakni sekitar tahun 1968 peserta dari pengajian rutin semakin banyak hingga banyak dari rumah penduduk yang dijadikan tempat pengajian rutin kewalahan menampung banyaknya jamaa’ah pengajian rutin. Karena banyaknya jamaa’ah pengajian maka pengurus memindahkan lokasi pengajian ke madrasah ibtidaiyah yang berada di dusun kromasan dengan alasan lokasi yang lebih luas.

Pada awal tahun 1985 pengajian rutin diteruskan oleh ustad Aunur Rofiq bin gufron, Lc. semakin meningkatnya keinginan masyarakat untuk menuntut ilmu agama membuat madrasah dirasa kurang cukup luas untukmenampung jama’ah pengajian yang ada sehingga pada tahun 1989 lokasi pengajian dipindah dari madrasah ibtidaiyah ke masjid al anshor. Untuk semakin memperluas siar islam dan juga memberikan kesempatan kepada para pegawai untuk dapat mengikuti pengajian maka dibentuk pangajian rutin ahad pagi ahad pertama dan ketiga yang lokasinya berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain di wilayah kediri, tulungagung, blitar, trenggalek, nganjuk yang pengurus masjidnya mengajukan diri menjadi tuan rumah. Dengan terbentuknya pangajian rutin ahad pagi, maka pengajian rutin malam sabtu ahad pertama dan ketiga dipindah menjadi malam ahad ahad pertama dan ketiga agar dapat memberikan efektifitas kepada peserta pengajian rutin maupun ustadz yang memberikan ceramah.

Pada masa awal pengajian tema maupun bahasan dari pengajian tergantung oleh para penceramah, sehingga bahasan yang disampaikan akan berbeda-beda setiap kali pertemuan sesuai apa yang ingin dibahas oleh penceramah. Baru pada masa ustadz Aunur Rofiq bin gufron menjadi penceramah pada pengajian rutin malam ahad pertama dan ketiga dibahaslah satu kitab yakni sarah kitab bulughulmaram, meskipun terkadang juga dibahas kitab-kitab lain sesekali waktu. Pembahasan sarah kitab bulughulmaram ini menjadi begitu panjang karena ustadz Aunur Rofiq menjelaskan secara mendetai dan terperinci beserta contoh-contoh yang terjadi dalam realita saat ini, sehingga dalam setiap kali tatapmuka dibahas satu sampai empat hadist tergantung dari banyak atau sedikitnya sarah yang ada dan juga berat atau ringan pembahasan yang dibicarakan.

Metode yang digunakan oleh ustadz Aunur Rofiq dalam menyampaikan ceramah adalah metode pemaparan, dalam pengajian tersebut ustadz Aunur Rofiq menjelaskan secara mendetail beserta contohnya kemudian di ahir pertemuan ditarik beberapa kesimpulan dan sebelum penutupan diberikan kesempatan untuk tanya jawab. Merujuk banyaknya peserta pengajian yang sudah tua dan belum banyak masyarakat yang menempuh pendidikan yang cukup tinggi maka metode ini cukup efektif memberikan pemahaman, hal ini terbukti dari banyaknya peserta pengajian golongan tua yang aktif mengikuti jama’ah sholat dhuhur dan ashar meskipun banyak yang dari mereka berprofesi sebagai petani yang notabenenya adalah berangkat sehabis subuh dan pulang ketika matahari terbenam. Selain itu hal yang lebih penting adalah masyarakat dapat mengetahui dan mengikuti ajaran agama islam yang lurus sesuai dengan pemahaman Rasulullah shalalahu alaihi wasalam beserta para sahabatnya.